ADHD-Autism: Bagaimanakan Membedakannya?

Purboyo Solek
Divisi Neuropediatri
Bagian llmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung

PENDAHULUAN
Gangguan perilaku pada anak yang sering dijadikan keluhan oleh orangtua, guru, dan masyarakat awam adalah hiperaktifitas. Hiperaktivitas pada anak (anak tidak mau diam, bergerak terus dari satu tempat ke tempat lainnya, jahil dan nakal), dapat kita jumpai pada banyak kasus di bidang perkembangan anak, khususnya perilaku (behavior) anak. Kasus ADHD (attention deficit hyperactivity disorder), autisme, gangguan pendengaran berat, retardasi mental, anak dengan kemampuan IG jauh di atas rata-rata (Gifted) dapat memperlihatkan gejala perilaku yang tidak bisa diam. Apabila kita hanya melihat tampilan perilaku hiperaktif yang tampak pada seorang anak tanpa lebih jauh lagi mencari gejala-gejaia lainnya, kasus di atas seringkali menjadi salah diagnosis. Anak yang menderita autisme dengan tipe interaksi sosial perilaku aktif aneh, seringkali didiagnosis sebagai ADHD, begitu juga sebaliknya. Padahal keduanya memiliki kriteria diagnostik berdasarkan DSM IV (diagnostic statistical manual of mental disorder) yang sangat berbeda, tidak mungkin anak ADHD juga menderita autisme dan begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, diagnostik yang tepat gangguan perilaku yang kita dapatkan adalah sangat penting karena menentukan jenis terapi yang akan kita berikan dan juga menentukan dalam hal membuat prediksi jangka panjang dari penderitanya.

Dalam makalah ini akan diuraikan tentang ADHD-Autisme, bagaimana membuat diagnosisnya dan apa perbedaan keduanya, bagaimana potensi akademiknya, serta apa prediksi jangka panjang yang dapat kita buat pada kedua kelainan tersebut.

Download Paper Disini

(Visited 287 times, 1 visits today)

Pilih Topik Jurnal

Kumpulan jurnal-jurnal yang terkait dengan masalah learning disabilities seperti dyslexia, autism, neuro-development, pediatrics, dan behavior.

Klik topik-topik di bawah ini untuk menyaring jurnal