Artikel Ilmiah


Bagaimana Mengenali Disleksia pada Anak Usia Pra-sekolah dan Usia Sekolah?


Kristiantini Dewi, dr., SpA
Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia

USIA PRA-SEKOLAH

Kapan kita patut menduga seorang anak usia pra-sekolah menyandang disleksia ? Berikut ini adalah tanda-tanda disleksia yang mungkin dapat dikenali oleh orangtua ataupun guru:

1. Pelupa

Anak pra sekolah biasanya memang masih suka lupa namun penyandang disleksia biasanya sangat pelupa dan sering lupa hampir di setiap saat atau setiap waktu. Hal ini dikarenakan daya ingat jangka pendek yang buruk.

3. Gangguan keberbahasaan

Anak disleksia biasanya menunjukkan gangguan keberbahasaan dalam hal mengutarakan maksudnya, antara lain:
– Kesulitan membedakan unit bunyi terkecil dari suatu huruf (Phonological Awareness), misalnya ‘taman’ untuk ‘tanam’ – Penggunaan istilah yang tidak tepat untuk mengungkapkan sesuatu – Penggunaan istilah yang terbalik misalnya "atas" untuk "bawah", "maju" untuk "mundur", dsb – Tertukar-tukar kata (misalnya: ‘dia - ada’, ‘sama - masa’, ‘lagu - gula’, ‘batu - buta’, ‘tanam - taman’, ‘dapat - padat’, ‘mana - nama’) – Kesulitan dalam mengingat kata-kata – Kesulitan memahami konsep ‘lebih banyak dari’, ‘lebih sedikit dari’, ‘persamaan’, ‘perbedaan’, ‘sebelum’, ‘sesudah’ – Kesulitan bercerita secara sikuens

4. Kesulitan dalam mengenali huruf

Anak disleksia mengalami kebingungan atas konsep alfabet dan simbol. Oleh karena itu mereka kesulitan dalam mengenali huruf sehingga mereka pun sulit untuk mengeja. Bentuk-bentuk lain kesulitan mengenali huruf ini dapat berupa:
– Huruf tertukar-tukar, misalnya ’b’ tertukar dengan ’d’, ’p’ tertukar dengan ’q’, ’m’ tertukar dengan ’w’, atau ’s’ tertukar dengan ’z’ – Kesulitan membedakan huruf vokal dengan konsonan

5. Menuliskan huruf atau lambang bilangan terbalik

Gejala ini seringkali digeneralisasi sebagai pertanda khas dan pertanda tunggal disleksia, padahal tidaklah selalu seperti itu. Anak usia prasekolah (baik penyandang disleksia atau bukan) sangat wajar jika menuliskan huruf dan lambang bilangan dengan terbalik arah di awal masa pembelajarannya. Namun anak disleksia biasanya melakukan hal ini lebih konsisten lagi dan cenderung lebih sulit dikoreksi. Sebaliknya, bisa saja anak tersebut disleksia tapi tidak pernah mengalami menulis terbalik.

6. Kesulitan menyusun atau menyebutkan alfabet dalam urutan yang tepat.

Menyusun atau menyebutkan huruf-huruf dalam susunan alfabet yang tepat merupakan kegiatan yang menuntut keterampilan sikuens dan ketrampilan working memory. Karenanya, seringkali merupakan kegiatan yang sulit bagi anak disleksia usia pra-sekolah.

7. Kesulitan dalam koordinasi gerakan motorik.

Kesulitan dalam koordinasi gerakan motorik seperti sering terjatuh, sering menabrak benda, sering tersandung merupakan hal yang mudah dilihat pada anak prasekolah. Sekalipun anak disleksia tidak selalu menunjukkan gejala tersebut di atas, namun hal ini patut diperhatikan.

8. Kesulitan dalam keterampilan motorik halus

Anak disleksia biasanya kesulitan dalam melakukan aktivitas yang membutuhkan ketrampilan motorik halus seperti mewarnai, tracking pola, menggunting, mengancing baju, memakai kaos kaki, dsb.

9. Slow processing speed

Anak disleksia akan tampak lambat dalam memberikan respons dan lambat dalam mengeksekusi suatu tugas atau instruksi. Gejala ini merupakan faktor yang cenderung persisten pada anak disleksia dan mudah dikenali di setting belajar di sekolah.

10. Sering kehilangan barang

Kehilangan barang atau properti miliknya seringkali dikeluhkan oleh orangtua misalnya kehilangan pensil, botol minum, jepit rambut, kaos kaki dsb.

11. Adanya riwayat disleksia dalam keluarga

Adanya riwayat anggota keluarga yang juga menyandang disleksia akan memperkuat dugaan kejadian disleksia pada anak dengan gejala-gejala tersebut di atas.

12. Kesulitan lainnya

Selain berbagai kesulitan di atas, anak disleksia juga pata mengalami kesulitan lain seperti: – Kesulitan dalam diskriminasi visual – Kesulitan dalam persepsi spatial – Kesulitan membedakan kanan kiri – Kesulitan memahami konsep waktu


USIA SEKOLAH

Seiring dengan bertambahnya usia, anak disleksia pun dapat menunjukkan berbagai kesulitan di bidang akademik saat mereka memasuki usia sekolah, dalam hal ini sekolah dasar. Berikut adalah berbagai kesulitan yang dapat dijumpai pada anak usia sekolah, selain berbagai kesulitan yang telah disebutkan di atas:

1. Kesulitan dalam membaca

Kesulitan dalam membaca dapat berupa:- Membaca lambat-lambat dan terputus-putus - Membaca tidak tepat, misalnya:      * Menghilangkan atau salah baca kata penghubung (‘di’, ‘ke’, ‘pada’)      * Mengabaikan kata awalan pada waktu membaca (‘menulis’ dibaca sebagai ‘tulis’) - Tidak dapat membaca ataupun membunyikan perkataan yang tidak pernah dijumpai - Kesulitan memahami kalimat yang dibaca ataupun yang didengar

2. Kesulitan dalam menulis

Anak disleksia seringkali mengalami kesulitan dalam membuat pekerjaan tertulis secara terstruktur misalnya membuat esai. Selain itu orangtua juga seringkali mengeluhkan anak mereka memiliki tulisan tangan yang buruk dan mengalami kesulitan mempelajari tulisan sambung.

3. Slow processing speed

Di usia sekolah, keluhan ‘tampak lamban’ juga semakin sering disampaikan orangtua, seperti kesulitan atau lambat mengerjakan PR.

Copyright © 2019 | NBP Center

Jl. Haruman no. 35, Bandung, West Java, Indonesia

Registration