Artikel Ilmiah


Penyandang Autis, Mungkinkah Bekerja?
“Peduli Mereka Lompat Tinggi”


Dr. Purboyo Solek, SpA(K)
Konsultan & Kepala Div. Neurologi Anak Dept. IKA FK UNPAD-RSHS

Autisme merupakan kelainan perkembangan yang sifatnya berat dan kompleks karena meliputi lebih dari satu area perkembangan yang terganggu (bahasa, sosial dan kognitif). Kondisi ini termasuk kedalam kelompok kelainan perkembangan yang menetap, tidak sembuh, namun performanya dapat dioptimalkan dengan terapi jangka panjang (long life treatment) dan melibatkan berbagai disiplin ilmu (multi disiplin), tidak hanya dokter tetapi juga psikolog perkembangan anak, pedagog dan tentunya orang tua beserta seluruh keluarga penderita.

Berbagai penelitian dari Negara-negara maju melaporkan bahwa penyebab dari kelainan ini diduga kuat adalah kelainan genetik, yang sifatnya multigen (lebih dari dua puluh gen yang telah ditemukan), yakni gen-gen yang bermutasi saat dalam proses kehamilan, dan bukan sesuatu yang sifatnya diturunkan dari orang tuanya. Angka prevalensnya 2-4 kasus per 10.000 anak, kejadian pada anak laki-laki dan perempuan 4:1.

Berbagai penelitian melaporkan bahwa sebagian besar autisme (75-80%) memiliki potensi kecerdasan (diukur dalam satuan Intelligent Quotient = IQ) yang jauh di bawah rata-rata. Tiga puluh persen (30%) penyandang autism berada pada level disabilitas intelektual ringan sampai sedang, sedangkan 40% lagi berada pada level disabilitas intelektual yang berat; hanya 20-25% saja yang memiliki potensi kecerdasan mendekati level rata-rata/normal. Kelompok yang terakhir inilah yang disebut sebagai kelompok high functioning autism.

Sebagian besar penyandang autism adalah non verbal, sejalan dengan kemampuan comprehension serta vocabulary nya yang paling sulit berkembang, sedangkan kemampuan block design merupakan kemampuan yang paling menonjol. Penderita autisme mengalami kesulitan untuk memahami segala sesuatunya yang bersifat abstrak atau yang memerlukan pemahaman yang sifatnya kompleks dan sebagian besar tetap non verbal sampai usia mereka dewasa bahkan pada yang high functioning sekalipun. Walaupun sebagian besar autisme memiliki kemapuan kognitif dibawah rata-rata normal, bentuk high functioning autism mempunyai potensi yang dapat dikembangkan di bidang seni: lukis dan musik. Sebagian dari anak-anak autisme mempunyai kepandaian dalam memainkan alat-alat musik: gitar, drum, bas dan key board.





Manakah di antara mereka yang mungkin bekerja?

Sebelum kita bicarakan tentang kemampuan penyandang autism untuk bekerja, maka ada beberapa aspek yang harus dikuasai betul oleh seseorang untuk mampu bekerja, yakni aspek kemandirian (terutama bina diri dan kegiatan keseharian), serta aspek ketrampilan (vocational skill). High functioning autism adalah kelompok anak autism yang mampu didik dan mampu latih untuk mengerjakan hal-hal berkaitan dengan kemandiriannya dan kemudian berkembang ke arah ketrampilan tertentu seperti bermusik, berkebun, beternak, melukis, berdagang sederhana, operator mesin, chef, entry data, packaging, dan sebagainya. Seluruh kegiatan pekerjaan yang dilakukan mereka sifatnya membutuhkan pengawasan orang lain, dan diutamakan pada jenis pekerjaan yang membutuhkan sedikit kemampuan interaksi dengan orang lain.

Dibutuhkan dukungan banyak sekali pihak yang dapat mewadahi dan mengakomodasi ketrampilan vokasional para penyandang autism ini. Selain itu, para pihak yang bersedia memfasilitasi anak-anak autism ini pun perlu memahami dengan sangat komprehensif karakteristik kemampuan dan sifat/cirri perkembangan spesifik dari autism itu sendiri. Hal ini bertujuan agar anak autism yang akan masuk kelas vokasional dapat dipersiapkan dengan pas, dan mereka yang kelak bekerja memang mendapatkan jenis pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristiknya sendiri-sendiri.

Copyright © 2019 | NBP Center

Jl. Haruman no. 35, Bandung, West Java, Indonesia

Registration